Home > Studi hadits > Pengertian Hadits Shahih

Pengertian Hadits Shahih


2.1 Pengertian Hadits Shahih

Berita (khabar) yang dapat diterima bila ditinjau dari sisi perbedaan tingkatannya terbagi kepada dua klasifikasi pokok, yaitu Shahîh dan Hasan. Masing-masing dari keduanya terbagi kepada dua klasifikasi lagi, yaitu Li Dzâtihi dan Li Ghairihi. Dengan demikian, klasifikasi berita yang diterima ini menjadi 4 bagian, yaitu:

  • Shahîh Li Dzâtihi (Shahih secara independen)
  • Hasan Li Dzâtihi (Hasan secara independen)
  • Shahîh Li Ghairihi (Shahih karena yang lainnya/riwayat pendukung)
  • Hasan Li Ghairihi (Hasan karena yang lainnya/riwayat pendukung)

Dalam kajian kali ini, kita akan membahas seputar bagian pertama di atas, yaitu Shahîh Li Dzâtihi (Shahih secara independen)

  1. 1.         Definisi

Secara bahasa (etimologi), kata Al-Shahih (sehat) adalah antonim dari kata Al-Saqim (sakit). Bila diungkapkan terhadap badan, maka memiliki makna yang sebenarnya (haqiqi) tetapi bila diungkapkan di dalam hadits dan pengertian-pengertian lainnya, maka maknanya hanya bersifat kiasan (majaz).

Secara istilah (terminologi), maknanya adalah: Hadits yang bersambung sanad (jalur transmisi) nya melalui periwayatan seorang periwayat yang ‘adil, dlâbith, dari periwayat, misalnya hingga ke akhirnya (akhir jalur transmisi), dengan tanpa adanya syudzûdz (kejanggalan) dan juga tanpa ‘illat (penyakit).[1]

  1. 2.      Penjelasan Definisi
  • Sanad bersambung : Bahwa setiap rangkaian dari para periwayatnya telah mengambil periwayatan itu secara langsung dari periwayat di atasnya (sebelumnya) dari permulaan sanad hingga akhirnya.
  • Periwayat Yang ‘Adil : Bahwa setiap rangkaian dari para periwayatnya memiliki kriteria seorang Muslim, baligh, berakal, tidak fasiq dan juga tidak cacat maruah (harga diri)nya.
  • Periwayat Yang Dlâbith : Bahwa setiap rangkaian dari para periwayatnya adalah orang-orang yang hafalannya mantap/kuat (bukan pelupa), baik mantap hafalan di kepala ataupun mantap di dalam tulisan (kitab)
  • Tanpa Syudzûdz : Bahwa hadits yang diriwayatkan itu bukan hadits kategori Syâdz (hadits yang diriwayatkan seorang Tsiqah bertentangan dengan riwayat orang yang lebih Tsiqah darinya)
  • Tanpa ‘illat : Bahwa hadits yang diriwayatkan itu bukan hadits kategori Ma’lûl (yang ada ‘illatnya). Makna ‘Illat adalah suatu sebab yang tidak jelas/samar, tersembunyi yang mencoreng keshahihan suatu hadits sekalipun secara lahirnya kelihatan terhindar darinya.

2.2 Syarat-Syarat Hadits Shahih

Melalui definisi di atas dapat diketahui bahwa syarat-syarat keshahihan yang wajib terpenuhi sehingga ia menjadi hadits yang Shahîh ada lima:

  1. Sanadnya bersambung, artinya masing-masing perawi betul-betul pernah menerima hadits secara langsung dari perawi diatasnya. Keadaan itu berlangsung demikian sampai akhir sanad.
  2. Para periwayatnya ‘Adil, artinya perawinya harus beragama islam, mukallaf, melaksanakan ketentuan agama dan berperilaku baik.

Maksudnya, ‘adil atau ‘adalah ialah salah satu potensi yang dapat menjaga seseorang untuk dapat kontinyu dalam bertakwa dan mampu menjaga kewibawaan dan muru’ahnya. Seorang perowi dapat dikategorikan memiliki kriteria ‘adalah dengan syarat:

  • Islam, hadits yang diriwayatkan oleh seorang kafir tidak diterima.
  • Baligh, pada masa ini seorang anak sudah mulai memiliki tanggungjawab agama. Hadits yang diriwayatkan oleh seorang perowi yang belum baligh tidak diterima karena belum memiliki beban hukum.
  • Berakal, saat meriwayatkan hadits seorang perowi harus dalam keadaan sadar dengan apa yang diriwayatkan, berakal sehat tidak terganggu status akal pikirannya.
  1. Para periwayatnya Dlâbith, artinya sempurna hafalannya, baik dlabith al-shadr dan dhabith al-kitab.

Maksudnya, seorang perowi mampu meriwayatkan kembali hadits-hadits yang pernah ia hafal secara spontan tanpa ada perubahan dari apa yang pernah ia dengar. Barometer yang digunakan untuk mengetahui kualitas hafalan seorang perowi adalah dengan membandingkan hafalan perowi tersebut dengan tokoh-tokoh ahli hadits yang dijadikan rujukan oleh para muhaddis saat itu, seperti: ahmad bin hanbal, yahya bin ma’in, ali bin madini, dan lain-lain. Jika hadits-hadits yang dihafal oleh seorang perowi sama dan tidak berbeda dengan apa yang dihafal oleh tokoh-tokoh rujukan tersebut, maka perowi itu dapat dikategorikan sebagai perowi yang memiliki hafalan sempurna (tamam al-dhobt). Jika terdapat sedikit perbedaan maka derajatnya sedikit turun menjadi qolla dhobtuhu (hafalannya sedikit rendah). Namun jika terdapat banyak perbedaan atau kekeliruan maka hafalannya dikategorikan parah (fahisy adh-dhobt) dan hal itu akan berpengaruh pada kualitas hadits yang diriwayatkan.[2]

Dhobt atau Dlâbith dibagi 2, dhobt as-shadr dan dhobt al-kitab. Apabila sorang perowi dalam meriwayatkan hadits bertumpu pada hafalannya maka dinamakan dhobt as-shadr, namun jika berpegang pada tulisan yang pernah ia tulis dalam lembaran-lembaran yang berusaha dijaga hingga tidak terjadi perubahan pada tulisan tersebut maka dinamakan dengan dhobt al-kitab.

  1. Tidak terdapat ‘illat, artinya tidak ada sebab yang tersembunyi yang dapat merusak kualitas hadits.

Maksudnya, tidak terdapat satu “penyakit” yang tersembunyi dalam teks maupun sanad hadits yang dapat merusak kesempurnaan hadits, jika dipandang secara dhohir hadits tersebut sekilas nampak sempurna. Akan nampak cacatnya jika diteliti lebih jeli. Contohnya: misalnya hadits yang semestinya marfu’ diriwayatkan dengan mauquf atau sebaliknya. [3]

  1.  Tidak terdapat Syudzûdz, artinya hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah tidak bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh banyak perawi yang juga bersifat tsiqah.

Maksudnya, hadits yang diriwayatkan oleh seorang perowi yang tsiqah (terpercaya) tidak berlawanan substansinya dengan riwayat hadits perowi yang lebih tsiqah. Sebatas berbeda riwayat namun masih bisa diakurkan tidak dinamakan Syudzûdz. Misalnya hadits riwayat perowi tsiqah substansinya menyatakan boleh namun riwayat perowi yang lebih tsiqah menyatakan tidak boleh, dan setelah diusahakan untuk diakurkan 2 teks tersebut ternyata tidak bisa, maka hadits perowi pertama menjadi syadz, dan masuk kategori dha’if.

Apabila sebuah hadits memenuhi kriteria di atas maka hadits tersebut dikategorikan sebagai hadits yang shahih dan konsekuensi logisnya hadits tersebut dapat dijadikan sebagai hujjah ataupun landasan hukum, karena dengan proses dan kriteria semacam itu dapat diyakini bahwa informasi yang dibawa oleh perowi tersebut benar bersumber dari Nabi saw.

Ada beberapa kitab yang menghimpun hadits-hadits shahih dan dapat dijadikan sebagai rujukan hadits shahih, diantaranya: shahih bukhari dan Muslim. Adapun contoh hadits shahih misalnya hadits yang diriwayatkan oelh Muslim dari sahabat ‘Amr bin ‘Ash dimana Rasulullah bersabda:

?????? ?? ??? ???????? ?? ????? ? ???

            “Hakikat seorang muslim adalah jika orang muslim lain dapat selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.

2.3  Macam-Macam Hadits Shahih

  1. Shahih li-dzatihi

Hadits yang sanadnya bersambung-sambung, diriwayatkan oleh orang yang adil, sempurna hafalannya dari orang yang sekualitas dengannya hingga akhir sanad, tidak janggal dan tidak mengandung cacat yang parah.

  1. Shahih li-ghairih

Hadits yang keadaan rawi-rawinya kurang hafidh dan dhabith tetapi mereka masih terkenal orang yang jujur, hingga karenanya berderajat hasan, lalu didapati padanya dari jalan lain yang serupa atau lebih kuat, hal-hal yang dapat menutupi kekurangan yang menimpanya itu.

2.4 Tingkatan Keshahihan Hadits

Pada bagian yang lalu telah kita kemukakan bahwa sebagian para ulama telah menyebutkan mengenai sanad-sanad yang dinyatakan sebagai paling shahih menurut mereka. Maka, berdasarkan hal itu dan karena terpenuhinya persyaratan-persyaratan lainnya, maka dapat dikatakan bahwa hadits yang shahih itu memiliki beberapa tingkatan:

Tingkatan paling tingginya adalah bilamana diriwayatkan dengan sanad yang paling shahih, seperti Malik dari Nafi’ dari Ibn ‘Umar.

Yang di bawah itu tingkatannya, yaitu bilamana diriwayatkan dari jalur Rijâl (rentetan para periwayat) yang kapasitasnya di bawah kapasitas Rijâl pada sanad pertama diatas seperti riwayat Hammâd bin Salamah dari Tsâbit dari Anas.

Yang di bawah itu lagi tingkatannya, yaitu bilamana diriwayatkan oleh periwayat-periwayat yang terbukti dinyatakan sebagai periwayat-periwayat yang paling rendah julukan Tsiqah kepada mereka (tingkatan Tsiqah paling rendah), seperti riwayat Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah.

Dapat juga rincian di atas dikaitkan dengan pembagian hadits shahih kepada tujuh tingkatan: [4]

  • Hadits yang diriwayatkan secara sepakat oleh al-Bukhari dan Muslim (Ini tingkatan paling tinggi)
  • Hadits yang diriwayatkan secara tersendiri oleh al-Bukhari
  • Hadits yang dirwayatkan secara tersendiri oleh Muslim
  • Hadits yang diriwayatkan berdasarkan persyaratan keduanya sedangkan keduanya tidak mengeluarkannya
  • Hadits yang diriwayatkan berdasarkan persyaratan al-Bukhari sementara dia tidak mengeluarkannya
  • Hadits yang diriwayatkan berdasarkan persyaratan Muslim sementara dia tidak mengeluarkannya
  • Hadits yang dinilai shahih oleh ulama selain keduanya seperti Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibbân yang bukan berdasarkan persyaratan kedua imam hadits tersebut (al-Bukhari dan Muslim).

2.5  Hukum Hadits Shahih

 

Wajib mengamalkannya menurut kesepakatan (ijma’) ulama Hadits dan para ulama Ushul Fiqih serta Fuqaha yang memiliki kapabilitas untuk itu. Dengan demikian, ia dapat dijadikan hujjah syari’at yang tidak boleh diberikan kesempatan bagi seorang Muslim untuk tidak mengamalkannya.

  • Berakibat kepastian hukum. Hal ini apabila hadits tersebut terdapat pada shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Demikian pendapat yang dipilih dan dibenarkan oleh Ibnu Al-Shalah.
  • Imperatif diamalkan. Menurut Ibnu Hajar dalam kitab syarah Al-Nuhbah, wajib mengamalkan setiap hadits yang shahih, meskipun hadits dimaksud tidak termasuk yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
  • Imperatif untuk menerimanya. Menurut Al-Qasim dalam kitab qawa’idu Al-Thadits, bahwa wajib menerima hadits shahih walaupun hadits shahih itu tidak pernah diamalkan oleh seorang pun.
  • Imperatif segera diamalkan tanpa menunggu sampai adanya dalil yang bertentangan. Menurut Syekh Al-Fallani di dalam kitab Liqaadzu Al-Himami, bahwa mengamalkan hadits dhahih tidak usah menunggu mengetahui tidak adanya snasikh (hadits lain yang menganulir), atau tidak adanya ijma’ atau dalil-dalil lain yang bertentangan dengan hadits itu. Akan tetapi, harus segera diamalkan sampai benar-benar diketahui adanya dalil-dalil yang bertentangan dengannya dan kalau toh ada maka harus diadakan penelitian terlebih dahulu.
  • Hadits shahih tidak membahayakan. Menurut Ibnu Qayyim dalam kitab Ighaatsatu Al-Lahfan, bahwa hadits shahih walaupun hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat saja, tidak membahayakan, yakni tidak mengurangi kadar keshahihannya
  • Tidak harus diriwayatkan oleh orang  banyak. Hadis yang shahih tidak pasti diriwayatkan oleh orang banyak, sebagai dasarnya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Muadz yang berbunyi sebagai berikut:

??? ???? ????? ???????? ???? ??? ?????? ?????? ???? ? ??????? ?????????? ??????? ????? ?????? ?????????

???? ? ???? ???????? ??????? ???????: ??????????? ????? ??????? ???????????? ???????????????? ????? ???? ????? ??????????? ?????????? ???? ??????? ?????? ????????

“Tidak seorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat kecuali Allah mengharamkanya masuk neraka. Mu’adz bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya hadis ini aku beritahukan kepada orang-orang supaya mereka bergembira?” Nabi saw menjawab,” Hadis tersebut baru di ceritakan kepada orang-orang oleh Mu’adz menjelang wafatnya karena takut berdosa jika tidak mengamalkannya.

Imam Bukhari meriwayatkan secara ta’liq dari sahabat Ali ra:

????? ???????? ????? ??????????? ??????????? ???? ????????? ???? ? ???????????

            “Ceritakanlah (hadits) kepada orang-orang sesuai dengan pengetahuannya, apakah kalian senang, Allah dan RasulNya didustakan?”

Ibnu Mas’ud juga berkata :

????????? ????????? ??????? ???????? ??? ?????????? ??????????? ?????? ???????????? ????????

 (???? ????)

“Engkau tidak boleh menceritakan kepada suatu kaum sesuatu hadis yang tidak terjangkau oleh akal mereka, melainkan hanya akan menimbulkan fitnah di antara mereka,” (HR.Muslim).

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, di antara ulama yang tidak suka menceritakan hadis secara sepotong-sepotong dengan maksud-maksud tertentu, di antaranya untuk menghindari kewajiban-kewajiban atau menghilangkan hukum-hukum, tindakannya itu akan menimbulkan kerusakan dunia dan akhirat. Bagaimana mereka sampai bisa berbuat demikian, padahal semestinya semakin giat pula ibadahnya. Seperti halnya ketika Nabi saw ditanya, “Mengapa engkau selalu Qiyaamu Al-Lail padahal Allah SWT telah memaafkan engkau? Kontan Nabi saw menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”


[1]  Mahmud Thahhan . 2007 . Intisari Ilmu Hadits . Malang : UIN-Malang Press

[2] H. Zeid B. Sameer . 2008 . Ulumul Hadits (Pengantar Studi Hadits Praktis) . Malang : UIN-Malang Press

[3] Muhammad Adib Sholeh . Lamahat fi Ushul al-Hadits . 114

[4] Imam Al-Nawawi.2001.Dasar-Dasar Ilmu Hadits . Jakarta : Pustaka Firdaus

Categories: Studi hadits Tags:
  1. November 30, 2013 at 12:53 am | #1

    Reblogged this on 안녕하세요 !! and commented:
    Tugas (=|

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: